Connect with us

MathewSharp.com

MathewSharp.com


Travel

Surabaya ~ Farrah Nurmalia Sari

Bismillah.. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk kembali ngepost di blog ini. Mungkin berikutnya saya juga akan ngepost beruntun dari tulisan-tulisan di draft yang sudah lama terbengkalai. Hanya perlu edit-edit dan menyelesaikan yang belum rampung. Semoga cepat terselesaikan. Aamiin. Kemarin Hari Selasa, 10 Januari 2016 saya pergi kerumah Mbak Pipit mengembalikan rok yang saya pinjam karena…

Bismillah..

Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk kembali ngepost di blog ini. Mungkin berikutnya saya juga akan ngepost beruntun dari tulisan-tulisan di draft yang sudah lama terbengkalai. Hanya perlu edit-edit dan menyelesaikan yang belum rampung. Semoga cepat terselesaikan. Aamiin.

Kemarin Hari Selasa, 10 Januari 2016 saya pergi kerumah Mbak Pipit mengembalikan rok yang saya pinjam karena 2 minggu yang lalu saya kehujanan waktu perjalanan kerumah Mbak Pipit dan mantel hanya saya kenakan bagian atasnya saja. Rok saya basah kuyup. Disana, saya menelfon nomor dari House of Sampoerna (HoS) untuk reservasi tiket Bus Surabaya Heritage Track (SHT). Saat reservasi tiket via telfon, nanti akan ditanya jam dan tanggal ikut tournya, nama dan nomor Hp yang bisa dihubungi. Kita diminta untuk hadir di HoS setengah jam (maksimal 15 menit) sebelum keberangkatan Bus SHT. Apabila lebih, maka tiket akan diberikan kepada waiting list karena yang berminat tour dengan bus SHT sangatlah banyak. Ini dia jadwal tour SHT

Sumber: Google

Saat ditanya “Iya mbak, pesan berapa tiket?” Saya jawab “1 aja mbak saya jomblo”. Becanda. Mbak-mbak resepsionis terdengar tertawa kecil diseberang sana. Setelah itu, saya menuju Stasiun Kereta Api Malang Kota untuk membeli tiket. Fyi, kereta api dari Malang ke Stasiun Surabaya Kota (Stasiun Semut) memakai KA Penataran. Mengapa saya membeli tiket PP 2 hari sebelum keberangkatan? Saya hanya antisipasi, takutnya kalau beli mendadak akan kehabisan tiket, karena ketika menjelang maghrib kereta akan penuh mengangkut orang pulang bekerja. Terlihat… yaa typical. Begitu pula tiket SHT, kalau tidak pesan dulu, bisa-bisa saya terlunta-lunta nggak jadi kemana-mana di Surabaya karena kehabisan kursi.

Kali ini saya solo traveling lagi, dan one day trip. Malam sebelum keberangkatan, saya belum persiapan apa-apa. Semuanya dadakan karena saya mengentengkan perjalanan kali ini. Maksud saya “belum persiapan apa-apa” adalah browsing tentang angkot untuk mengakses tempat-tempat di Surabaya. Karena dipikir-pikir, kalaupun tidak tahu angkot di Surabaya kan ada Gojek eheh. Tidak seperti waktu saya ke Mojokerto dulu, Gojek belum masuk ke kota itu. Jadi saya sangat kepayahan. Yang kedua, karena memang di Surabaya tujuan saya Tugu Pahlawan dan HoS, hanya 2 tempat. Jadilah santai sekali.

Hari Kamis, 12 Januari 2016 saya sudah stay di peron Stasiun Malang Kota pada pukul 6.55, tepat 12 menit sebelum keberangkatan. Motor saya parkir di dekat pintu keluar stasiun. Saya bilang ke mas-mas tukang parkirnya akan kembali sekitar jam 9 malam, jadi bayarnya 5000 rupiah. Kereta kali ini molor sekitar 20 menit karena berhenti agak lama di Stasiun Sidoarjo dan Stasiun Tanggulangin (kalau tidak salah). Sesampainya di Stasiun Semut pukul 10.10, kesan pertama, panas dan mataharinya terik sekali! Tapi tidak sepanas Mojokerto. Diluar sudah banyak bapak-bapak tukang becak yang menawarkan. Saya mendadak bingung harus bagaimana. Menurut pengamatan saya, karakter orang Surabaya dan Mojokerto sedikit berbeda. Bila di Mojokerto sebelum saya meminta bantuan, beberapa orang sudah care menanyakan “Mau kemana mbak?” Dan semua orang yang saya tanyai jawabnya asik banget, seperti “Oh nanti gini, gini, gini”, “Wah maaf mbak saya ndak tahu, saya juga bukan orang sini”, “Mbak mungkin bisa tanya ke bapak itu, sepertinya beliau ngerti” dan jawaban-jawaban ramah lain. Mereka peka *ceilah. Tapi disini, di Surabaya, orang yang saya lihat kebanyakan sibuk sendiri, sendiri-sendiri, semuanya diam, terburu-buru, setiap detik seperti rush hour, berjalan cepat seperti sedang ditunggu atau sedang dikejar, wow.nya saya tanya salah satu mbak-mbak di depan stasiun “Mbak apakah ada angkot yang menuju Tugu Pahlawan?” – “Nggak tau”. Nahloh. Singkat padat dan jelas. Okesip. Terima kasih mbak. Biglove♡

Stasiun Surabaya Kota (Stasiun Semut)

Kebingungan saya menjadi berlipat setelah saya membuka google maps mencari jalan menuju Tugu Pahlawan dari Stasiun Semut. Sebenarnya dekat, hanya 700 km. Saya dulu dari Alun-Alun Mojokerto ke Stasiun Mojokerto jalan kaki bermodalkan google maps juga sampai. Jaraknya 1.2 km kalau tidak salah. Tapi ini, jalanan Surabaya sangatlah besar. Hmm.. lebar juga. Ramai kendaraan. Tak mau semakin ambil pusing, saya naik becak pada akhirnya. Jarak 700 meter, bapaknya menawarkan dengan biaya 30 ribu. Yekali. Mahalnya Seperti biasa saya menggunakan bahasa jawa yang sangat halus untuk hal tawar menawar. Eheh. Akhirnya dapatlah 15 ribu. Tidak apalah daripada saya bingung sendiri.

Kantor Gubernur Jawa Timur

Sesampainya, saya lihat di depan Kantor Gubernur Jawa Timur dipasang pagar kawat dan terdapat banyak polisi. Sudah dipastikan akan ada aksi. Sayapun berlalu dan memasuki kawasan Tugu Pahlawan lewat gapura yang bentuknya seperti api (?) Ternyata di depan patung Proklamatorlah para mahasiswa yang akan melakukan aksi berkumpul. Takutnya, saya tidak bisa masuk ke dalam. Saya mendatangi salah satu bapak polisi disana “Pak, pengunjung tetap diperbolehkan untuk masuk ke kawasan Tugu Pahlawan kan?” Alhamdulillahnya si bapak mengiyakan. Setelah saya melewati patung peoklamator dan berjalan menuju Museum 10 November, saya disapa seorang bapak-bapak Tionghoa yang berjalan bersama kedua anaknya. “Mbak di depan sedang mau ada demo ya?”-“Iya pak sepertinya, ramai mahasiswa. Museumnya buka kah pak?”-“Iya mbak, buka kok saya ini tadi dari sana”-“Oh iya pak. Terima kasih.”-“Sama sama mbak, saya duluan ya”-“Iya pak”. Nah alhamdulillah ya masih ada yang ngajak ngobrol. Haha.

Tugu Pahlawan dan Museum 10 Nopember (berbentuk seperti pyramid)
Mahasiswa yang bekumpul untuk aksi

Museum. Sepertinya dua kali liburan semester ini saya selalu wisata sejarah. Kalau di Mojokerto saya wisata sejarah Kerajaan Majapahit, kalau di Surabaya saya wisata Sejarah Indonesia. Kita akan membayar biaya masuk museum sebesar 5000 rupiah. Awal masuk, saya merasa sedikit merinding karena saya sendirian. Museumnya seperti didesain berada pada bawah tanah, jadi kita perlu menuruni eskalator dulu untuk menemukan pintu masuknya. Di depan pintu masuk ada 2 guide, mbak-mbak dan mas-mas. Biasanya di museum tidak boleh memfoto, jadinya saya bertanya dahulu “Mbak maaf mau tanya. Apakah boleh mengambil gambar di dalam museum?”-“Kalo ngefoto boleh mbak. Tapi kalo memgambil gambar ya jangan”. Eaaaaa. Becanda deh. Yekali mbak mau ambil gambar-gambar di dalam. Waktu itu saya sendirian. Sebenarnya dari tempat membeli tiket dan berjalan menuju pintu masuk museum saja saya sudah merinding. Entahlah. Saya sebenarnya takut sekali jika harus keliling museum sendirian. Bagi saya, museum itu berisi barang-barang bersejarah yang dulu pernah dimiliki oleh orang yang sekarang sudah meninggal. “Barang” yang bikin saya takut disini adalah semua barang yang di museum, khususnya senjata. Namanya senjata pasti dibuat untuk berperang. Bayangan saya, pasti di senjata masih membekas darah-darah dari jiwa masa lalu. Apalah itu. Takut saya juga, bagaimana bila senjatanya tiba-tiba melayang ke arah saya, senapannya tiba-tiba meletupkan peluru, lukisan atau fotonya bisa senyum-senyum sendiri, matanya bisa melirik. Nahkan… that’s why saya suka museum tapi kalau sendiri jadi tidak terlalu menikmati. Tapi namanya ketakutan, bagaimanapun harus dihadapi. Dan belajar juga untuk membunuh setiap pikiran negatif.

Museum 10 Nopember lantai 1
Museum 10 Nopember lantai 2

Setelah dari museum sudah adzan dhuhur aja. Ketika saya akan keluar mencari masjid, ternyata di dekat gerbang keluar ada mushalla. Saya sholat disana bersama dengan bapak-bapak polisi banyak sekali. Nebak-nebak pasti beliau-beliau gantian jaga aksi di kantor gubernur sana. Wow, nggak lupa ibadah yaa…

Super Simple Word Press Hosting

Content That Matters

click here for discounted hosting!

Saya sadar persediaan minum saya habis. Keluar gerbang, saya mencari Ind*maret sekalian ngadem cari AC. Padahal akhirnya cuma beli 1 botol air mineral tanggung, tapi keliling di dalamnya selama 10 menit. Haha. Sambil duduk-duduk di depan convenience store itu, saya mengorder G*jek. Yaa ini pertama kalinya sih jadi bingung juga pakai aplikasinya gimana. Ndeso banget kelihatan. Saya hidupkan location di hp, lalu saya masukkan start point dan tujuannya mau kemana (tujuan saya ke HoS) Pada start point saya tambahkan catatan “Ind*maret Bubutan dekat SD-SMP Katolik” nah itu searching nearest drivernya lama banget. Kayaknya lagi sibuk semua. Tapi alhamdulillah dapet laahh. Lalu saya ditelfon drivernya untuk menunggu sebentar lagi.

Sesampainya di HoS masih pukul 1 kurang 15 menit. Saya masih bisa ambil jadwal jam 1 tapi masuk waiting list. Tidak apa-apa. Saya berdo’a semoga saja ada yang membatalkan keberangkatan. Karena jujur, saya ingin ikut semua rangkaian tournya. Destinasinya keren-keren sih. Jam di hp saya menunjukkan pukul 1 tepat, saya kembali masuk ke tempat resepsionis bagian bus SHT (fyi ini tempatnya ada di depan á cafe HoS). “Mbak sudah jam 1. Apa ada yang membatalkan?”-“Sebentar mbak kurang 30 detik lagi” (ini mas-masnya yang jawab. Tepat waktu banget nah. Harus ya ngomong kurang 30 detik? Padahal saya sudah pengen banget pegang tiket) – “Sudah mbak, kosong 1. Sekarang isi form lalu ini tiketnya” HOOORRAAAYYY.

Bus Surabaya Heritage Track
Tiket Bus SHT pertama saya

Perjalanan kali ini saya beruntung karena satu bus dengan mahasiswa-mahasiswa dan tour guidenya juga seru abis, namanya Mas Aji. Kebanyakan ngakak di dalam bus waktu Mas Aji jelasin segala hal yang sesuai tema perjalanan kali ini, yakni “The Trading City”. Sepanjang perjalanan kami melewati banyak sekali bangunan kuno dan Mas Aji menjelaskan satu-satu fungsi bangunan tersebut di masa lalu dan masa sekarang. Pertama kami serombongan mengunjungi Klenteng Hok Ang Kiong lalu dijelaskan berbagai hal mengenai masuknya Tiongkok di Indonesia, barang apa saja yang mereka perdagangkan, semua arti daei benda benda dan patung yang ada di klenteng dan apa yang dilakukan orang Tiongkok di dalam klenteng. Destinasi kedua adalah Escompto Bank. Escompto Bank disini kita masuk ke sebuah museum di Bank Mandiri. Disana terdapat banyak sekali mesin penghitung uang yang sudah tua, televisi tua, buku besar yang benar benar besar dan biasanya dipakai untuk pembukuan, dan banyak foto-foto sejarah. Setelah satu jam berlalu, kita serombongan kembali lagi ke HoS.

Bagian depan Klenteng Hok Ang Kiong
Escompto Bank

Di HoS ada sebuah museum. Begitu masuk pintunya, aroma cengkeh langsung tercium. Saya diminta menunjukkan KTP oleh mbak-mbak yang menjaga pintu. Okesip. Lalu saya keliling-keliling. Disana terdapat koleksi cengkeh dari berbagai daerah di Indonesia, koleksi pemantik api, bungkus pemantik api, foto-foto awal produksi rokok s*mpoerna, dan lain-lain banyak sekali. Naik ke lantai 2 kita juga bisa melihat kebawah suatu ruangan yang digunakan untuk memproduksi rokok. Banyak sekali meja-meja disana. Sayangnya kita tidak boleh mengambil foto, dan sayangnya juga pekerja pembuat rokok disana hanya bekerja sampai pukul 11 jadi saat saya menengok sudah sepi sekali.

Salah satu sudut dari Museum Sampoerna

Waktu menunjukkan pukul setengah 3 sore. Saya kembali ke tempat resepsionis Bus SHT untuk mengikuti tour lagi hari ini. Sebenarnya hanya diperbolehkan mengikuti 1 tour dalam satu hari. Namun 2 hari sebelumnya justru saya sudah reservasi untuk yang tour pukul 3 sore ini. Akhirnya saya tanyakan lagi, dan saya masuk waiting list lagi karena menyalahi. Ya, memang saya yang bersalah T.T pada pukul 3 tepat, nama saya dipanggil. Wow ternyata ada yang membatalkan perjalanan lagi alhamdulillah. Hehe. Kali ini saya satu bus dengan 3 foreigners dewasa dan 2 anak-anak, jadi guide tour kami Mas Aji menjelaskan dalam 2 Bahasa, Bahasa Indonesia lalu diulang lagi menggunakan Bahasa Inggris. Tour pada pukul 3 sore di weekday ini bertemakan “Surabaya during The Dutch Occupation”, menjelaskan bagaimana 3 prinsip penjajah “3G = Gold, Glory, Gospel” di Surabaya. Di bus ini sebenarnya saya duduk dengan 1 bapak-bapak foreigner yang juga memangku anaknya, namun selanjutnya beliau memilih berdiri dan anaknya yang sekitar umur 2 tahun duduk di samping saya. Anak itu mengajak saya berbicara, seperti bercanda, namun dia memakai Bahasa Spanyol. Hahaha. Sudah anak kecil berbicara belum jelas, pakai Bahasa Spanyol pula. Becanda banget itu anak. Saya menanyainya menggunakan Bahasa Inggris, namun dia tidak paham. Nahkan. Apa tuh. Lalu dia menggenggam tangan saya dan kami berpegangan tangan selama keliling dengan bus.

Tujuan pertama adalah Kantor Pos Kebonrojo. Bangunan tersebut dulunya adalah sekolah pada masa penjajahan Belanda. Wow sekali. Disana si anak Spanyol itu menarik-narik tengan saya. Saya ikuti dia, eh dia malah melepas genggaman dan berlari. Nah apa deh tuh. Mendadak paham, ternyata anak itu minta main kejar-kejaran. Telenovela banget. Dia berlari dan saya mengejar. Orang tuanya hanya tertawa. Tujuan selanjutnya kami berjalan menuju Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria (Gereja Kepanjen) tepat di belakang kantorpos. Gereja Kepanjen bergaya eropa kuno dan jendela warna warninya menunjukkan bahwa gereja tersebut bergaya gothic. Dijelaskan oleh Mas Aji, gereja didesain untuk dapat memantulkan suara, jadi tanpa microphone pun suara sudah terdengar kemana-mana. Saat itu ada latihan choir juga, saya berasa jadi Yoona di film The K2. Haha. Dalam rombongan kami ada yang beragama katolik, jadi saya memperhatikan mereka berdoa karena kepo. Ketika memasuki gereja, saya merasa saya sudah bukan di Indonesia lagi. Keren banget arsitekturnya.

Kantor Pos Kebonrojo
Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria (Gereja Kepanjen)
Interior Gereja Kepanjen

Tujuan ketiga adalah Ex. De Javasche Bank. Ini juga Bank Mandiri (mungkin) tapi sepertinya berbeda dengan lokasi yang sebelumnya. Saya sedikit kurang faham. Kami hanya lewat di depannya, tidak turun karena ada acara di dalam gedung. Jadi Mas Aji hanya menjelaskan di dalam bus. Pukul setengah 5 bus kembali ke HoS. Hari mulai hujan dan saya harus segera kembali ke Stasiun Semut karena jadwal kereta saya jam 17.50. Kembali saya memesan G*jek dan ternyata searching nearest drivernya lama banget karena mungkin hujan deras dan HoS menurut saya agak nyempil. Tapi akhirnya dapat juga hehe. Sesampainya di stasiun, saya basah kuyup bagian bawah karena saya memakai rok sedangkan jas hujan bawahnya berupa celana, jadi tidak saya pakai. Tidak ada pilihan lain, saya membeli po* mie. Haha. Lalu membeli snack kentang dengan ukuran besar, saya makan sendiri di kursi tunggu luar peron. Namun di tengah-tengah nyenack, ada anak kecil yang sepertinya ingin saya membagi jajannya kepada dia. Saya suruh dia duduk di samping kanan saya dan kita jadi makan jajan bareng. Ada saudaranya datang yang sama-sama masih kecil, saya suruh duduk di samping kiri saya. Nahkan, terlihat sudah saya seperti ibu dari mereka.

Pukul 17.20 penumpang KA Penataran sudah boleh memasuki peron. Saya tap barcode tiket saya dan segera menuju kereta di jalur dua. AC di KA Penataran sangat dingin bagi saya yang setengah basah. Hari itu benar-benar keren. Malamnya saya menginap di rumah Mbak Pipit karena akan terlalu malam bila saya pulang kerumah. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan saya masih bisa kembali demgan selamat. Semoga semester depan saya bisa trip lagi entah kemana. Aamiin.

Ask me anything: ask.fm/farrahn_

Source

Subscribe to the newsletter

We hate SPAM and promise to keep your email address safe

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

To Top